BUKITTINGGI,AsiaChannel.web.id — Industri perhotelan di Sumatra Barat terus menunjukkan geliat positif pasca-libur sekolah yang berakhir pada 12 Juli 2026 lalu. Berada di lokasi paling strategis di pusat kota Bukittinggi, sebuah hotel berkapasitas 133 kamar dengan arsitektur khas bergaya Eropa kini bersiap mengambil porsi pasar yang lebih besar seiring memanasnya arus wisatawan asing ke ranah Minang.
Dalam wawancara eksklusif pada Selasa (14/7/2026), Tri Amelia selaku Director of Sales (DOS) Marketing hotel tersebut, memaparkan bagaimana kesiapan manajemen dalam menangkap peluang emas dari pulihnya rute internasional dan pasar korporat.
Membidik Pasar Korporat dan Hangatnya Jalur Travel Agent Internasional
Dari kacamata marketing perhotelan, Tri Amelia mengungkapkan bahwa ceruk pasar domestik saat ini didominasi oleh sektor korporat (perusahaan). Dengan tingginya frekuensi agenda pertemuan, rapat kerja, dan meeting di Bukittinggi, segmen ini menjadi tulang punggung okupansi harian perhotelan.

Namun yang tidak kalah menarik adalah geliat pasar internasional. Kolaborasi erat dengan Travel Agent (B2B) pada rute klasik Malaysia – Padang – Bukittinggi kini kembali memanas.
”Pasar internasional kita tidak hanya kedatangan tamu dari Malaysia, tetapi juga mulai diramaikan oleh wisatawan asal Jepang yang memilih Indonesia sebagai destinasi liburan mereka, termasuk menginap di jaringan Monopoli,” ujar Tri Amelia.
Untuk mempermudah transaksi para wisman ini, Tri menekankan pentingnya integrasi layanan penukaran uang (money changer) serta kemitraan dengan agen lokal (local agent) yang menjual tiket langsung ke destinasi wisata ini.
Sinergi Pemerintah, Efek “Satu Abad Jam Gadang”, dan Kuliner Lokal
Langkah taktis yang diambil manajemen hotel ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Bukittinggi yang sangat progresif dalam menggelar berbagai event pariwisata skala besar.
Tri Amelia mengakui bahwa momentum perayaan Satu Abad Jam Gadang memberikan dampak domino yang luar biasa terhadap angka hunian kamar (occupancy rate). Tren positif tersebut terjaga konsisten hingga melewati momen libur sekolah yang baru saja berakhir pada 12 Juli 2026 kemarin.
Ke depan, strategi promosi akan lebih difokuskan pada kekuatan kuliner lokal. Kuliner Bukittinggi dinilai memiliki daya tarik sensorik kuat yang mampu mendorong wisatawan untuk kembali berkunjung.
Formula Penjualan Kamar & Keunggulan Kompetitif
Dengan total modal 133 kamar, Tri Amelia memaksimalkan strategi revenue management untuk memastikan tingkat hunian tetap tinggi melalui:
Paket Bundling & Promo Diskon Penawaran harga khusus yang fleksibel dan disesuaikan dengan musim (seasonal promo).
Optimalisasi Tingkat Hunian (Occupancy-Based Pricing): Penyesuaian tarif dinamis demi menjaga kestabilan okupansi harian.
Nilai Jual Unik (USP): Keunggulan absolut berupa lokasi strategis di pusat kota, arsitektur Eropa yang estetik, serta variasi menu makanan yang sangat lengkap.
Asa Seni: Mengaktifkan Kembali “Medan Nan Balinduang”
Menutup sesi wawancara pada Selasa sore tersebut, Tri Amelia juga menaruh harapan besar pada aspek pelestarian budaya lokal sebagai daya tarik wisata berkelanjutan. Ia menyuarakan aspirasi agar Medan Nan Balinduang dapat diaktifkan kembali secara maksimal sebagai pusat kegiatan seni dan budaya.
Reaktivasi pusat seni ini diyakini tidak hanya akan memperkaya atraksi kota, tetapi juga menjadi magnet baru yang secara langsung memperpanjang lama tinggal (length of stay) wisatawan di Bukittinggi.( Rika )












Leave a Reply