Rp54,46 Miliar untuk Jalan: Yang Dibutuhkan Bukan Janji, Melainkan Mutu

Agam,AsiaChannel.web.id -Pemerintah Kabupaten Agam mengumumkan alokasi Rp54,46 miliar untuk pembangunan dan rehabilitasi jalan di berbagai titik. Di atas kertas, ini adalah kabar baik. Infrastruktur memang menjadi urat nadi perekonomian, pendidikan, kesehatan, dan aktivitas masyarakat.

Namun, pengalaman mengajarkan bahwa masyarakat tidak lagi cukup diyakinkan dengan besarnya angka anggaran. Yang dinilai bukan berapa miliar yang diumumkan, melainkan berapa lama jalan itu bertahan setelah selesai dikerjakan.

Kalimat “masyarakat wajib mengawasi pelaksanaan” sesungguhnya mengandung pesan yang lebih dalam. Ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti pada proses penganggaran. Justru tantangan terbesar dimulai ketika proyek memasuki tahap pelaksanaan.

Di sinilah integritas diuji. Apakah pekerjaan benar-benar sesuai spesifikasi? Apakah kualitas material memenuhi standar? Apakah volume pekerjaan dikerjakan sebagaimana kontrak? Apakah pengawasan dilakukan secara profesional? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan bentuk kecurigaan, melainkan konsekuensi dari penggunaan uang publik.

Setiap rupiah yang digunakan berasal dari rakyat. Karena itu, setiap meter jalan yang dibangun harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat pula. Tidak boleh ada ruang bagi pekerjaan asal selesai, proyek yang lebih mengejar target administrasi daripada kualitas konstruksi, atau pengawasan yang hanya kuat di atas kertas.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa pengawasan bukan berarti menghambat pembangunan. Sebaliknya, pengawasan adalah cara menjaga agar pembangunan menghasilkan manfaat jangka panjang, bukan sekadar menghasilkan laporan selesai pekerjaan.

Pemerintah, kontraktor, konsultan pengawas, DPRD, aparat penegak hukum, media, dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama: memastikan anggaran sebesar Rp54,46 miliar benar-benar berubah menjadi jalan yang layak, aman, dan bertahan lama.

Sebab keberhasilan pembangunan tidak diukur dari banyaknya baliho proyek yang berdiri atau seremoni yang meriah. Keberhasilannya diukur ketika lima atau sepuluh tahun ke depan masyarakat masih menikmati jalan yang sama tanpa harus kembali bertanya, “Apakah hasil pembangunan benar-benar sebanding dengan anggaran yang telah dialokasikan?”

Pembangunan yang baik tidak takut diawasi. Justru pengawasan adalah bukti bahwa uang rakyat masih memiliki penjaga.

Penulis: Ardy mu’tamar

Source: metrobatam 28 juni 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *